Rabu, 12 Juli 2017

SEJARAH PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA DALAM ALKITAB (PERJANJIAN LAMA)

Pada dasarnya manusia merupakan makhluk religius walaupun sering ingkar janji. Dalam kehidupan manusia terdapat suatu kesadaran akan adanya suatu makhluk yang Mahakuasa. Sekalipun suku bangsa yang paling primitif pun merupakan makhluk religius ketika ia mencoba untuk menggenapi kewajibannya terhadap kuasa yang tak kelihatan itu. Sejak permulaan sejarah, musik selalu menjadi suatu hubungan yang unik dengan pengalaman ibadah manusia. Ada banyak bukti menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir, selain satu kebudayaan yang paling awal, menggunakan musik secara intensif dalam upacara ritual religius. Orang Mesir memiliki banyak instrumen musik, dari sistrum sampai harpa dengan 12 atau 13 senar. Tak diragukan lagi, Yunani, yang kebudayaannya tak kalah pentingnya memperoleh pengetahuan tentang musik dan prakteknya dari orang-orang Mesir. Orang Yunani sangat banyak menggunakan musik dalam upacara keagamaan mereka dan menyatakan bahwa musik mempengaruhi moral dan emosi manusia dan menganggap musik berasal dari dewa-dewa. mereka.

Walaupun bangsa Ibrani menggunakan musik dalam ibadah mereka kepada Yehova, namun musik tidak pernah dikembangkan seperti bangsa Yunani. Orang Ibrani, tidak seperti orang Yunani, tidak menghubungkan musik dengan moralitas. Bagi orang Ibrani, seni dianggap penting kalau bila dipakai untuk memuja dan memuji Yehova. Sebagian besar yang kita ketahui tentang ibadah orang Ibrani ada dalam kitab Perjanjian Lama. Di dalamnya, kita mendapati sejumlah besar acuan yang membuktikan pentingnya musik vokal dan instrumental dalam ibadah orang Ibrani. Kata musik pertama-tama tertulis dalam Kejadian 4:21, di mana Yubal disebutkan sebagai “Bapa, semua orang yang memainkan kecapi dan suling”. Dalam Alkitab ada kira-kira 13 instrumen yang berbeda, yang disebutkan, yang dapat diklasifikasikan sebagai instrumen dengan senar, instrumen tiup atau perkusi. Ada sejumlah penyanyi dan lagu disebutkan dalam Perjanjian Lama, misalnya: Lagu Miriam (Keluaran 15:20-21), Lagu Musa (Keluaran 15:2), Lagu Debora dan Barak (Hakim-Hakim 5:3), Lagu ucapan Syukur Hana (1 Samue12:1-10), Lagu ucapan syukur dan pelepasan dari kejaran Saul yang dinyanyikan Daud (II Samuel 22).

Semua kata yang berkenaan dengan musik, pemusik, instrumen musik, lagu, penyanyi dan nyanyian disebutkan 575 kali dalam seluruh isi Alkitab. Acuan yang berkaitan dengan musik didapati dan 44 dari 66 kitab dalam Alkitab. Kitab Mazmur yang terdiri dari 150 pasal, dianggap berasal mula dari sebuah kitab yang berisi nyanyian. Dengan jatuhnya Yerusalem di bawah kekuasaan Daud dan ditempatkannya kemah suci di kota itu, ibadah yang dilakukan menjadi semakin semarak dan dilengkapi dengan pagelaran musik. Suku Lewi ditugaskan untuk memberikan pelayanan musik dan memimpin ibadah ini.

Di bawah kepemimpinan Daud, paduan suara dan orkestra besar pertama dikelola untuk dipakai sebagai bagian dari ibadah di kemah suci. Ketika Salomo, anak Daud, menjadi raja dan membangun Bait Allah yang pertama, semarak, pagelaran musik menjadi semakin agung. Yosephus, sejarawan Yahudi yang terkenal, menulis bahwa dalam Bait Allah yang pertama ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi berjubah yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah ini. II Tawarikh 5 memberikan gambaran tentang hadirnya sejumlah besar penyanyi dan instrumen musik, dalam ibadah tersebut. Setelah kembali dari tempat pembuangan di Babel, ibadah di Bait Allah kembali dilaksanakan, dengan pembangunan Bait Allah, yang kedua. Walaupun yang kedua ini tidak seindah yang pertama namun jelas bahwa pagelaran musik merupakan bagian dari ibadah orang Ibrani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar