Roda Ketiga Itu Adalah Yesus
Ilustrasi :
Sewaktu masih kecil, aku sangat ingin
bermain sepeda. Akhirnya, pada suatu hari ayah membelikanku sebuah sepeda mini. Sesegera
mungkin aku menaiki dan mengayuhnya. Namun, baru berjalan beberapa
meter, aku terjatuh. Aku teluka dan lututku lecet.
Dengan tersenyum ayah memasang sebuah roda
kecil dan menyatukkannya pada roda belakang sepedaku. Aku pun mulai
bisa mengayuh sepedaku dan tidak terjatuh. Roda kecil itu seperti penolong, sebuah
keajaiban bagi seorang anak kecil sepertiku yang sangat ingin
bersepeda.
Hidup ini bagai sebuah sepeda. Saat kita
membutuhkan roda ketiga yang nyata untuk menjadi penyeimbang hidup kita. Jika kita ingin berpindah ketempat yang jauh, dan ingin maju,
maka kita harus mengeluarkan tenaga dan keringat untuk mengayuh sepeda
kita.
Ada saatnya dimana roda kecil itu harus
dilepaskan. Jika roda kecil itu tidak dilepas, maka kita belum bisa
dikatakan “mampu bersepeda”. Kita pun akan ada saatnya untuk berpisah
dari orang-orang terdekat kita untuk bisa hidup lebih mandiri. Ada
saatnya dimana kita harus bisa mengatasi semua masalah dan menghadapinya
seorang diri.
Kita menjadi sangat kuatir, siapa yang
akan menolong ketika kita terjatuh? Tanpa kita sadari, kita sesungguhnya
akan tetap memiliki “roda ketiga” yang tidak kasat mata. “Roda” itu
akan selalu menjadi penyeimbang kehidupan kita sehingga kita tidak
sampai terjatuh. “Roda ketiga” itu adalah Yesus.
Yesus tidak akan pernah membiarkan
anak-anak-Nya berjalan sendiri. Yesus tidak akan pernah membiarkan kita
menanggung semua beban seorang diri. Yesus selalu ada di dalam
hidup kita, dan akan tetap melekat dalam diri kita saat kita
mengayuh “sepeda kehidupan”.
Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.
Mazmur 63:8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar